MATA SULSEL, JENEPONTO — Pukul 06.30 pagi, pasar tradisional Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto mulai bergeliat. Aroma mie rebus bercampur asap minyak goreng memenuhi udara. Di tengah keramaian itu, terdengar suara khas: “Ding!”
Bukan alarm, bukan musik. Itu adalah suara notifikasi dari ponsel Ibu Asni Kebo (35), pedagang mie ayam yang sudah 12 tahun berjualan di pasar Tarowang.
Dalam hitungan detik tepatnya 3,2 detik secangkir mie hangat berpindah tangan, dan uang Rp15.000 langsung mendarat mulus di rekeningnya. Tanpa uang kertas kusut, tanpa kantong plastik berisi recehan, tanpa pusing soal uang palsu.
Ini bukan adegan film. Ini adalah kenyataan baru yang mulai terlihat di berbagai sudut Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Dari warung kopi pinggir jalan hingga toko pakaian modern di pusat kota kode QR hitam-putih kini menjadi pemandangan yang akrab. Pelan tapi pasti, warga Jeneponto sedang mengalami revolusi kecil. Perubahan cara bertransaksi dari uang tunai ke digital.
Di balik perubahan ini, ada satu nama yang menjadi motor penggerak, BRI Cabang Jeneponto. Melalui program sosialisasi dan pendampingan massal, BRI memperkenalkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) standar pembayaran digital nasional yang diterbitkan Bank Indonesia.
Ari Kusmayadi, Pimpinan Cabang BRI Jeneponto yang baru menjabat lima bulan lebih, menyebut fenomena ini bukan sekadar tren sesaat.
“QRIS itu seperti jalan tol untuk transaksi UMKM,” ujarnya tegas, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/5/2026). “Cepat, murah, aman. Masyarakat tidak perlu lagi bawa uang tunai dalam jumlah besar. Risiko berkurang, keuntungan bertambah. Ini adalah lompatan, bukan sekadar perubahan.”
Menurut data BRI Cabang Jeneponto, hingga April 2026, lebih dari 339 pelaku UMKM di daerah ini telah mengadopsi QRIS aktif. Angka ini terus bertambah setiap minggu seiring gencarnya sosialisasi.

Ari Kusmayadi merinci lima manfaat utama yang langsung dirasakan oleh para pelaku usaha di Jeneponto:
1. ✅ Transaksi Secepat Kedipan Mata
Cukup scan kode QR menggunakan ponsel, uang langsung berpindah. Tidak perlu antre, tidak perlu menghitung uang kembalian. Rata-rata waktu transaksi hanya 3-5 detik.
2. ✅ Biaya Lebih Hemat Dibanding Mesin EDC
Mesin EDC konvensional memerlukan biaya sewa bulanan hingga ratusan ribu rupiah. QRIS BRI, dengan biaya administrasi yang jauh lebih rendah, menjadi solusi ideal bagi usaha mikro yang modalnya terbatas.
3. ✅ Aman dari Risiko Uang Palsu dan Pencurian
“Dengan QRIS, risiko memegang uang tunai dalam jumlah besar berkurang drastis,” jelas Ari. “Sistemnya terstandarisasi nasional dan diawasi Bank Indonesia. Jadi lebih terjamin keamanannya.”
4. ✅ Tampilan Usaha Lebih Modern, Disukai Generasi Muda
Usaha yang sudah menggunakan QRIS terlihat lebih profesional. Anak muda yang kini menjadi konsumen dominan lebih memilih bertransaksi pakai dompet digital seperti BRImo, GoPay, OVO, atau ShopeePay. QRIS menjadi jembatan yang menghubungkan mereka.
5. ✅ Pembukuan Otomatis, Memudahkan Akses ke Perbankan
Semua transaksi tercatat secara digital di aplikasi merchant. Pelaku usaha bisa melihat omzet harian, mingguan, hingga bulanan dengan mudah. Data ini menjadi bukti valid ketika mereka mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau produk pinjaman lainnya.
“Dulu pedagang harus catat manual di buku. Sekarang, semua otomatis. Ini memudahkan mereka saat butuh akses ke perbankan,” tambah Ari.
Namun, perjalanan menuju transaksi digital tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ari mengakui, ada tantangan besar yang harus dihadapi.
“Masih banyak pedagang yang awalnya ragu. Mereka takut salah, takut kena tipu, atau sekadar tidak paham cara pakainya,” kata Ari.
Untuk mengatasi hal ini, BRI tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pendampingan langsung ke lapangan. Tim BRI turun ke pasar-pasar tradisional, menemui pedagang satu per satu.
“Kami ajari dari nol. Cara daftar, cara membuat kode QR, cara membaca laporan transaksi. Kami pastikan mereka benar-benar paham sebelum kami tinggalkan,” jelasnya.
Pendekatan ini terbukti efektif. Perlahan, para pedagang yang awalnya skeptis mulai merasakan manfaatnya.
Di sebuah lapak sederhana di Pasar Karisa Jeneponto, Ibu Asni Kebo pedagang mie ayam yang menjadi salah satu peserta program QRIS BRI berbagi cerita.
“Awalnya saya takut. Takut uangnya gak masuk, takut salah scan. Tapi anak saya yang bantu ajarin,” ujarnya sambil tersenyum.
Sejak menggunakan QRIS BRI, omzetnya meningkat. “Anak-anak muda sekarang jadi sering beli. Katanya, mereka gak bawa uang tunai lagi. Semua bayar pakai HP. Kalau saya gak punya QRIS, mereka pasti lewat.”
Ia juga mengaku senang karena uang hasil jualan langsung masuk ke rekening. “Tak pusing tiap malam ngitung receh. Tidak khawatir uang palsu. Tinggal cek HP, tahu deh berapa pemasukan hari ini.”
Kisah serupa datang dari Pak Ruslan (55), pedagang baju di toko kecil miliknya. “Dulu, kalau ada pembeli bayar pakai QRIS, saya bingung. Sekarang, saya yang nawarin. Biar cepet, biar gampang.”
Di akhir perbincangan, Ari Kusmayadi menyampaikan visi besarnya.
“Harapan saya sederhana: membawa ekonomi Jeneponto ke arah yang lebih digital, inklusif, dan produktif,” katanya.
Ia meyakini, adopsi QRIS yang masif akan mendorong sirkulasi uang non-tunai yang lebih sehat, meningkatkan inklusi keuangan, dan pada akhirnya mempercepat pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
“QRIS bukan cuma alat bayar. Ini adalah tulang punggung ekonomi rakyat di era digital. Dan BRI berkomitmen menjadi mitra utama masyarakat dalam transisi ini. Kami tidak hanya hadir sebagai bank, tapi sebagai sahabat yang mendampingi setiap langkah menuju kemajuan.”
Sore mulai merangkak di Jeneponto. Ibu Asni Kebo mulai merapikan lapak mienya. Ponsel di saku celemeknya kembali berbunyi “Ding!” menandakan transaksi terakhir hari itu.
Di toko pakaian tak jauh dari sana, Pak Ruslan tersenyum puas melihat laporan omzet harian di aplikasi. Semua transaksi tercatat rapi. Tidak ada uang hilang, tidak ada catatan kusut.
Di kantor BRI Cabang Jeneponto, Ari Kusmayadi menutup laptopnya. Besok, timnya akan turun lagi ke pasar, menemui lebih banyak pedagang, mengajarkan lebih banyak orang tentang QRIS.
Pelan tapi pasti, dari gerobak mie di pinggir jalan hingga toko modern di pusat kota Jeneponto sedang menulis babak barunya.
Babak di mana scan menggantikan hitung.
Babak di mana digital bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan.
“Ding.” (*)

Tinggalkan Balasan